h1

Kebudayaan Belanda Depok

Juni 10, 2010

Sejarah Kaum Belanda Depok

Pada abad ke-16, saat Indonesia masih dijajah oleh Belanda, hiduplah seorang tuan tanah bernama Cornelis Chastelein yang mendiami dan membeli sebuah wilayah pertanian dan perkebunan bernama Depok. Cornelis kemudian menjadi Presiden di wilayah yang luasnya ribuan hektare itu.

Karena tak sanggup merawat tanahnya yang begitu luas, dia kemudian mengambil dan mempekerjakan budak-budak yang umumnya berasal dari Indonesia bagian timur, seperti Bali, Makassar, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Jawa, Pulau Rote serta Filipina. Setidaknya terdapat 200 budak dipekerjakannya.

Tak selayaknya tuan tanah lainnya di masa itu, Cornelis memperlakukan para budaknya dengan sangat manusiawi. Budak-budak tersebut dirawat, diberikan pendidikan, serta diperkenalkan agama Kristen Protestan lewat sebuah Padepokan Kristiani. Padepokan ini bernama De Eerste Protestante Organisatie van Christenen, disingkat Depok. Dari sinilah nama kota ini berasal.

Karena terlihat adanya kesetaraan dengan majikannya, tak pelak masyarakat yang hidup di sekitar perkebunan menyebut para budak itu Belanda Depok.

Suatu saat, Cornelis Chastelein meninggal dunia pada tanggal 28 Juni 1714 karena sakit. Cornelis pun mewariskan perkebunannya pada para budaknya yang telah dibebaskannya. Berikut isi wasiatnya.

“… Maka hoetang jang laen jang di sabelah timoer soengei Karoekoet sampai pada soengei besar, anakkoe Anthony Chastelein tijada boleh ganggoe sebab hoetan itoe misti tinggal akan goenanya boedak-boedak itoe mardaheka, dan djoega mareka itoe dan toeroen-temoeroennja tijada sekali-sekali boleh potong ataoe memberi izin akan potong kajoe dari hoetan itoe boewat penggilingan teboe… dan mareka itoe tijada boleh bikin soewatoe apa djoega jang boleh djadi meroesakkan hoetan itoe dan kasoekaran boeat toeroen-temoeroennja,…”

Kemudian ratusan budak tersebut kemudian dikelompokan menjadi 12 fam atau marga dan mewarisi surat wasiat dari Cornelis untuk merawat perkebunan tersebut. Belasan marga tersebut yaitu Laurenz, Loen, Leander, Jonathans, Toseph, Yakob, Sudira, Samuel, Zadoch, Isac, Bakas dan Tholence.

Seiring perkembangan zaman, wilayah yang disebut Depok pada zaman Cornelis Chastelein, kini hanyalah sebuah Kecamatan bernama Pancoran Mas Depok. Komunitas Belanda Depok sendiri masih dapat dijumpai di kawasan Depok Lama karena terdapat sebuah yayasan kumpulan mereka yang diberi nama Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein (YLCC).

Salah satu keturunan mereka yang juga anggota YLCC, Suzana Leander menuturkan, sebelum menjadi yayasan, YLCC hanya sebuah lembaga yang didirikan sebagai lambang persatuan budak-budak, serta tempat berkumpul komunitas mereka.

kini, setidaknya ada tujuh ribu warga komunitas Belanda Depok yang terdaftar di Lembaga Cornelis Chastelein (LCC). Mereka tersebar di berbagai daerah dan negara. Di antara mereka, sepertiganya adalah keturunan asli Belanda yang menikah dengan orang Indonesia atau keluarga Belanda yang lebih senang tinggal di Indonesia. Sebutan Belanda Depok sebetulnya hanya label belaka bagi orang pribumi yang mendapatkan keistimewaan dari pemerintah Belanda kala itu. Mereka menyandang 12 marga pekerja Cornelis Chastelein.

Aset-Aset Milik Kaum Belanda Depok

Saat Cornelis Chastelein meninggal pada tahun 1714, dia sempat menuliskan wasiat yang diberikan kepada budak-budak untuk merawat tanah dan warisan miliknya. Hingga kini, warisan-warisan tersebut masih tersisa dan hampir semua terawat dengan baik meski sudah berubah fungsi.

Contohnya, Istana Presiden Cornelis Chastelein, di Jalan Pemuda yang kini menjadi Rumah Sakit Harapan Depok. Di belakang rumah sakit tersebut, dulu terdapat gudang penyimpanan padi bagi para budak.

Salah satu keturunan mereka yang juga anggota YLCC, Suzana Leander mengatakan, sekolah pertama para budak adalah SD Pancoran Mas 02 yang hingga kini masih menjadi sekolah tanpa perubahan di bentuk bangunan gedung. Selain itu, gereja Immanuel tempat mereka beribadah, kini sudah dihibahkan kepada GPIB Jakarta Barat.

“Ada lagi aset kami, yaitu Pemakaman Kamboja di Depok Lama, serta lapangan sepak bola di belakang RS Hermina. Semuanya masih terawat dengan baik, termasuk YLCC ini, ada yang kami sewakan seperti Rumah Sakit,” kata papar Suzana kepada Okezone di Pancoran Mas Depok.

Tugas YLCC, kata Suzana, adalah sesuai dengan Undang-undang Yayasan yaitu seperti mencatat atau mendata setiap keturunan yang lahir, menikah, maupun yang meninggal. Menurutnya, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah.

“Kami terus lestarikan aset sejarah ini, setidaknya setiap keturunan kami selalu kami ceritakan tentang sejarah bagaimana mereka memperoleh marga di nama belakangnya, juga aset-aset yang masih tersisa,” tegasnya.

Selain itu YLCC juga meminta Pemerintah Kota Depok untuk turut serta melakukan perawatan terhadap berbagai peninggalan Belanda yang tak lepas dari sejarah Cornelis, dan sekarang masih tersisa. Seperti diketahui di kawasan Depok Lama saat ini, masih banyak terdapat bangunan dan rumah-rumah tua yang berarsitektur Belanda pada zaman penjajahan.

Wakil Ketua Pengurus Harian YLCC Fleppy Leander, yang juga ditemui okezone mengatakan, kawasan Depok Lama dan gedung YLCC berpotensi untuk menjadi tempat wisata budaya. Oleh karena itu Fleppy meminta kepada Pemerintah Kota Depok memberikan sejumlah dana perawatan untuk ikut menjaga dan melestarikan aset-aset yang diwarisi oleh Cornelis.

“Sudah ada wacana oleh Dinas Pariwisata, tapi belum terealisasi, memang harus ada dukungan dana dan dari pemerintah. Depok tidak akan ada tanpa Cornelis Chastelein,” ucapnya.

Selama ini, kata Fleppy, Pemkot Depok hanya membantu pemagaran di salah satu aset Cornelis yaitu pemakaman Kamboja, Depok Lama pada lima tahun lalu. Fleppy meminta Pemerintah Kota untuk segera membuat payung hukum berupa Peraturan Daerah (Perda) mengenai aset-aset sejarah.

“Di Depok itu banyak situs sejarah, cuma belum diinventarisir dan kurang mendapat perhatian, apalagi Depok belum punya museum, YLCC bisa dijadikan cagar budaya,” tegasnya.

Dana operasional YLCC, kata Fleppy, hanya berasal dari donatur acara gereja, bukan dari Pemerintah Kota. Jika dimungkinkan, kata Fleppy, sejarah Belanda Depok bisa diselipkan dalam kurikulum sejarah di sekolah. “Mengapa tidak, kalau Dinas Pendidikan setuju, ini kan penting bagi anak cucu kita, karena ini sejarah dan warisan budaya,” katanya.

Sumber:

http://news.okezone.com/read/extend/2010/03/08/345/310276/siapa-sebenarnya-belanda-depok

http://news.okezone.com/read/extend/2010/03/08/345/310295/ini-dia-aset-aset-belanda-depok

http://kolomkita.detik.com/baca/artikel/3/1428/sisa-sisa_belanda_depok

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: