h1

Bahaya Radiasi Ponsel dan Tips Penanggulangannya

Desember 9, 2009

Sejak dahulu isu radiasi telepon seluler telah membuat masyarakat resah. Telepon seluler yang kini telah menjadi salah satu perangkat dalam bagian hidup sehari-hari, tentunya perlu diketahui apakah radiasinya dapat membahayakan kesehatan. Menjawab kekhawatiran dunia akan bahaya telepon seluler, Organisasi Kesehatan Dunia juga telah meluncurkan Health Evidence Network. Ini merupakan layanan informasi Organisasi Kesehatan Dunia Kantor Regional Eropa, sebagai referensi bagi pengambil keputusan di bidang medis.

Ternyata, menurut organisasi kesehatan di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa ini, bukti bahwa radiasi telepon seluler dapat memicu tumor otak, tumor pada sel saraf pendengaran, tumor kelenjar saliva, leukemia dan limfoma, masih “lemah dan tak bisa disimpulkan”. Alasannya, orang hanya memakai telepon dalam waktu terbatas–bukan sepanjang hari secara terus-menerus.

Meski begitu, lembar fakta Organisasi Kesehatan Dunia menyebutkan, tidak ada bukti bukan berarti tidak ada efek. Harus ada penelitian lanjutan yang lebih spesifik untuk tiap-tiap kasus. Untuk itu, pada Oktober 2009, organisasi ini akan mengeluarkan rekomendasi resmi tentang aturan menggunakan telepon seluler, tentu saja berdasar penelitian yang lebih kredibel. Khurana sendiri menyarankan untuk membuat penelitian dampak penggunaan telepon seluler dalam jangka 10-15 tahun, agar menghasilkan “kajian ilmiah yang solid”.

Belum adanya kepastian tentang tingkat bahaya penggunaan telepon seluler itulah yang menjadi masalah. Para dokter di Indonesia menyatakan, meski pemakaian telepon seluler meningkat belakangan ini, belum ada penelitian di Tanah Air tentang bahayanya bagi kesehatan. Menurut Silvia F. Lumempouw, dari berbagai kasus penyakit saraf yang ia tangani–termasuk alzheimer dan neuroma akustik–belum pernah ada yang terkait langsung dengan penggunaan telepon seluler. Spesialis saraf dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo dan Rumah Sakit Dharma Nugraha ini menyatakan, radiasi dari seluler sebetulnya tak terlalu berbahaya jika dibandingkan dengan sumber radiasi lain seperti rontgen atau CT-scan. Para  pekerja medis yang setiap hari berurusan dengan radiasi pun aman, apalagi “cuma” telepon.

Silvia juga mengingatkan, sebetulnya kita juga dikelilingi radiasi dari televisi, radio, komputer, dan berbagai peranti lain. Karena itu, ia menyarankan, kita juga wajib mewaspadai gejala akibat penggunaan handphone yang berlebihan. “Teknologi kan  diciptakan untuk memudahkan, bukan untuk membuat sakit,” katanya.

Pengurus Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (Perdossi) ini membandingkan telepon seluler dengan obat. Jika sebelum dipasarkan, obat harus sukses melalui serangkaian proses (dicoba di hewan, lalu di manusia, kemudian di orang sakit), alat-alat teknologi pun seharusnya begitu. “Mesti ada aturan dari sisi kesehatan, sebelum produk itu dipasarkan,” kata Silvia. Jangan hanya berorientasi pada kecanggihan tapi tak mementingkan sisi medis.

Himawan W.H. juga menyatakan hal senada. Dokter spesialis telinga, hidung, dan tenggorokan di jaringan Rumah Sakit Mitra Internasional ini menyebut semua radiasi pada dasarnya berbahaya. Namun radiasi dari telepon seluler relatif kecil.

Selain dari telepon seluler, potensi radiasi di sekitar kita yang patut diwaspadai adalah penggunaan microwave, telepon tanpa kabel, paparan sinar matahari langsung, dan penerbangan. Laporan United States Federal Aviation Administration menyatakan, mereka yang terbang secara rutin terekspos radiasi setara dengan 170 kali dipindai sinar X. Karena selalu mengarungi udara itulah, pramugari dan pilot lebih rentan terkena kanker.

Untuk meminimalisir bahaya yang mungkin terjadi karena pengaruh radiasi telepon seluler, berikut tips jitunya seperti diramu dari EMF-Health:

Lakukan Pembatasan

Batasi pemakaian telepon seluler hanya pada panggilan yang penting-penting saja dan bicaralah dengan singkat. Ingatlah bahwa pembicaraan via telepon seluler yang terlalu lama, apalagi sampai berjam-jam disinyalir mempunyai beberapa dampak buruk terhadap kesehatan. Namun jika Anda memang harus melakukan panggilan yang lama, disarankan untuk memakai handsfree untuk keamanan.

Rentan Terhadap Anak-anak

Anak-anak di bawah umur seharusnya hanya diperbolehkan memakai telepon seluler dalam keadaan darurat saja. Mengingat mereka masih dalam tahap perkembangan, bahaya radiasi bisa bertambah parah.

Jeda Saat Melakukan Panggilan

Jika memakai telepon seluler tanpa handsfree, tunggulah sampai panggilan benar-benar terkoneksi sebelum menaruh telepon seluler di telinga untuk melakukan pembicaraan.

Minimalisir Pemakaian Telepon Seluler di Ruang Tertutup dengan Bahan Logam atau Baja

Dalam ruangan seperti ini, telepon seluler harus bekerja keras menstabilkan koneksi sehingga radiasi meninggi. Selain itu, ada kemungkinan radiasi memantul kembali ke pengguna di ruangan yang didominasi bahan baja,misal mobil.

Minimalisir Penggunaan Telepon Seluler ketika Kekuatan Sinyal hanya Satu Bar atau Kurang

Dalam kondisi ini, telepon seluler juga harus bekerja keras untuk menstabilkan koneksi sehingga radiasi bertambah besar.

Belilah Telepon Seluler dengan Level SAR (Specific Absorption Rate) yang Rendah

Level SAR adalah ukuran kuantitas frekuensi radio yang diserap tubuh manusia. Semakin rendah levelnya, semakin baik untuk meminimalisir radiasi. Anda bisa mendapat informasi mengenai SAR ini di buku panduan atau surfing di internet.

Jangan Masukkan Telepon seluler di Saku Celana

Material bahan di celana kadang dapat menjadi konduktor yang cepat untuk radiasi, ketimbang reaksi ke bagian kepala. Salah studi mengungkapkan posisi telepon seluler di saku celana, terutama dekat lipatan paha bisa berpengaruh pada kualitas sperma hingga turun 30 persen. Ini bisa menjadi perhatian penting bagi para pria.

Jangan Gunakan Telepon seluler di Elevator

Elevator (Lift) telah menjadi standar fasilitas di gedung-gedung bertingkat. Elevator pun kini sudah banyak yang dilengkapi penguat sinyal oleh para operator. Namun ada pendapat untuk menunda bertelepon di dalam ruang metal tertutup, dalam hal ini adalah elevator dan kendaraan box. Alasannya aktifitas telepon seluler dapat memicu hukum Faraday sehingga bisa menjebak radiasi yang dipancarkan dan di khwatirkan akibatnya berbalik ke pengguna.

Mengkonsumsi Suplemen

Radiasi dari perangkat Microwave di base station dapat mengurangi tingkat anti oxidant di dalam tubuh. Hal ini bisa menjadi ancaman sebab anti oxidant diperlukan tubuh untuk perlindungan dan membawa pengaruh pada indikator stress, infeksi dan penyakit-penyakit lain. Untuk itu Anda perlu mengkonsumsi suplemen yang mengandung elemen Melatonin, Zinc, Gingko Biloba dan Bilberry Extract. Keempat elemen tersebut bisa meningkatkan anti oxidant, melindungi sel otak dan kesehatan mata.

Sumber:

www.tempointeraktif.com/…/brk,20080825-132152,id.html

http://www.resep.web.id/…/tips-tangkal-bahaya-radiasi-telepon seluler.htm

http://kautsarku.wordpress.com/2009/10/19/10-langkah-hindari-radiasi-telepon seluler/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: